Sering sekali dalam hidup ini kita “menipu” hanya karena ketidak-telitian. Oh tunggu, kok menipu? Bukankah kalau menipu artinyakita adalah “subjek” yang melakukan “penipuan”. Bukankah seharusnya kita adalah “objek” yang dikenakan “penipuan”.

Nah saya membahasnya berdasarkan ketidak-telitian kita sebagai subjek. Kita sebagai subjek melakukan sesuatu tidak dengan teliti. Sehingga akhirnya kita menipu diri kita sendiri.

Contohnya: tadi waktu makan siang, saya ke warung beli bandeng presto goreng. Setelah milih-milih akhirnya saya ambil satu potong bandeng presto goreng. Dalam pikiran saya ini pasti bagian ekor karena memang saya menghindari bagian kepala. Banyakan insangnya hahaha.

Sampai dikantor, setelah ¬†saya makan setengah. Loh kok ada insangnya hahaha. Wah salah ambil lagi ini.¬†Bawaan pengaruh lapar bikin saya milihnya gak teliti. Asal lihat, oh ekor, ambil. Nah ada penipuan kan? Siapa yang menipu? saya tidak menyalahkan yang punya warung. Karena saya yang “menipu” saya sendiri dengan ketidaktelitian saya :p

Makanya, makan itu sebelum lapar. Kalau makan saat lapar sudah memuncak bawaanya gak teliti hahaha

 

post ke 1 dihari ke 12 dari 366

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s